Hari Jum’at, 11 April 2008. Pukul 10 pagi, di Musholla Fakultas.
Dosen MPS sudah 3 minggu nggak masuk. Beliau sakit typus. Harusnya, beliau ngajar pagi ini jam 8. Kami semua sudah diberikan kabar bahwa tidak ada MPS minggu ini. Tapi emang dasar orang rajin, saya dan Anti (nama saya samarkan demi privasi) tetep dateng pagi.
Anti : “Kangen sama Fahri”
Saya : (memutar bola mata) “tiap hari ketemu, juga...”
Anti : (menghela nafas, berat. Kayaknya nih orang memendam cinta yg begitu besar...halah! dramastis amat sih saya!)
Saya : “Baru sekarang jatuh cinta ampe segininya?”
Anti : (mengangkat bahu) “yang jelas, baru kali ini gue suka sama orang karena denger dia baca Qur’an...”
Para pembaca yg saya hormati, for your information, Anti menyukai salah seorang pengurus BEMF yang bernama Fahri (lagi2 nama ini saya samarkan). Hal tersebut bermula ketika kami, para pengurus BEMF melaksanakan raker selama 3 hari di daerah Sawangan, Depok. Dalam raker tersebut, kami membuat program Qiyammullail. Dan Fahri, sebagai kader terbaik FIS, selama 2 malam berturur-turut ditunjuk sebagai imam Qiyamullail. Selain karena dia punya jabatan penting di BEMF, juga karena bacaan serta hafalan Qur’an yang expert. Nggak dinyana, ternyata hal tersebut membuat salah seorang makmumnya (tentunya kaum Hawa) jadi kesengsem. Padahal mah, makmum yg lain pada ngeluh2 kaki kebas karena Fahri baca surat-surat panjang...
Saya : (tersenyum, nyengir, ga jelas dah pokoknya!) “berdo’a semoga Allah mempertemukan kalian dalam ikatan yang barokah...” (yang ini sok bijak...)
Anti : “Da, hati gue sakit kalo inget dia...Setiap dia masuk ke ruang BEM, jantung gue loncat-loncat. Tapi setiap gue berusaha menatap matanya, gue merasa hina banget...”
Saya : “Kenapa?”
Anti : “Karena merasa gue nggak pantes disandingkan sama dia...” (melas banget)
Saya : “Allah yang nentuin pantes atau nggak. Emang salah, kalo lo minta jodoh yang baik, yang hapal Qur’an?”
Anti : (bingung) “Jadi?”
Saya : (ikut bingung karena saya juga belum tahu mesti kasih saran apa buat makahluk yg lagi jatuh cinta ini...tapi kemudian saya bisa menguasai keadaan) “ya minta sama Allah suami yg baik. Kalo lo mau, sebut aja sekalian namanya, Fahri, gitu.”
Anti : “emang boleh?”
Saya : “Boleh. Asal lo suka sama dia ga bikin lo lupa Allah. Juga nggak bikin lo nggak ikhlas dalam ibadah dan bekerja... Jangan ampe lo tambah rajin baca Qur’an karena pengen dilirik Fahri. Atau rajin kerja di BEM karena pengen Fahri kesengsem juga...Lo mesti lurusin niat, kalo lo tambah rajin Qiyamullail lantaran lo emang butuh Allah sebagai tempat mengadu. Karena lo pengen bilang ke Allah kalo lo nggak akan melupakanNya hanya lantaran seorang Fahri. Lo harus serahkan semuanya pada Allah. Kalo Fahri bukan jodoh lo, lo minta supaya diikhlaskan. Kalo iya, lo minta semoga dipertemukan dengan cara yg Allah ridhoi, dan minta juga untuk diberkahi...”
Anti : (terdiam—dan terus terang, saya selalu merasa susah menerjemahkan wajah Anti yg imut itu. Unpredictable!)
Saya : “paham, neng geulis?”
Anti : “Iya, Bu Haji,”
Saya : “Amin...makasih ya udah do’ain gue...”
Anti : “Biasanya, gue cepet kok ngelupain laki-laki yg gue suka. Kayak dulu, gue pernah suka sama Adiz. Tau ‘kan lo? Sekarang, bekasnya juga nggak ada!”
Saya : (terdiam)
Saya nggak yakin, untuk Fahri ini Anti akan cepat melupakan. Adiz beda dengan Fahri. Bukan penghapal Qur’an. Sama sekali bukan. Adiz anak gaul biasa—yang ganteng mirip Fedi Nuril—yg gemar mencari eksistensi diri. Anti cepat melupakan Adiz lantaran Adiz seperti cowok gaul kebanyakan; senang menggoda perempuan, dan kadang bersikap sok cool (kuli kaliiii...). Tapi Fahri? Dia tipe yang mudah disukai dan sukar untuk di-ilfil-in sama perempuan. Apa sih kekurangannya? Yang saya tau hanya satu; nggak bisa main bola. Tapi itu nggak pernah dipusingin sama perempuan. Karena soal olahraga yg lain, Fahri boleh ditantang. Bicara soal kekurangan Fahri yg sulit ‘ditemukan’, mungkin itulah, kenapa kita harus rajin2 baca ma’tsurat. Terutama pada bagian : “Allahumma inni asbahtu minka fi ni’matin wa afiatin wa sitrin fa atimma alayya ni’mataka wa afiataka wa sitroka fid dunya wal akhirah...”
Dan Fahri pernah mengucapkan sesuatu pada penutupan raker BEMF waktu itu.
“Saya bersyukur kepada Allah, karena hingga saat ini Ia masih menyimpan baik-baik segala kekurangan dan aib-aib saya. Sungguh, sayapun bukan makhluk yg sempurna. Hanya Allah masih berkenan menutup aib dan kekurangan saya...”
Kata-kata itu pula yg hingga saat ini, masih tengiang dalam telinga Anti. Dan ia semakin pusing kepalanya dan sakit hatinya.
Inilah penderitaan seorang yg begitu romantis...Romantic agony...
Ufh...saya bersyukur, Anti tidak melakukan hal-hal yg aneh seperti nggak mau makan karena saking penuh jiwa dan hatinya oleh Fahri atau cari perhatian di depan Fahri. Ia seperti biasa. Ceria, murah senyum, rajin. Hanya, kalau kami berdua saja tanpa seorangpun kecuali Allah tentunya, terlihatlah segala beban yg menggayuti pikirannya. Ia tidak tenang dengan perasaan yg dirasakannya. Merasa ‘ini’ sudah di luar logika. Dan saya kerap memintanya untuk istighfar. Lalu saya menyediakan diri saya untuk menjadi tempat bersandarnya, menjadi teman yg setia mendengar kisahnya. Dan saya hanya bisa mendo’akan yg terbaik untuk Anti. Juga Fahri.
Well, bicara tentang romantic agony...saya juga.
Ugh!